Memahami Aturan Dan Menaikkan Kualitas Wasit

Sering mengamati pertandingan EPL, Serie A, La Liga, Liga Champions, sampai Piala Dunia? Apabila kita teliti niscaya mendapati sebuah kenyataan bagaimana seseorang wasit (dan asisten wasit) adalah “raja” selama 2 X 45 menit. Jangankan disentuh, menggertak atau mengejek wasit pun bisa berbuah kartu. Kalaupun lolos berdasarkan kartu, rekaman pertandingan mampu membuat pemain yang bersangkutan dikenai sanksi atau skorsing. Beberapa demam isu yg lalu Liga Inggris menciptakan sebuah program kampanye “Respect the Referee“. Banyak pelajaran positif menurut kampanye tersebut yg bisa kita ambil & terapkan pada kompetisi sepakbola kita.Peraturan sepakbola dalam semua pertandingan di bawah naungan FIFA (termasuk kompetisi domestik) adalah sama dan adalah sebuah baku standar, tidak tidak sama antar negara, federasi, & benua. Yang tidak selaras merupakan kultur (budaya) sepakbola dan kualitas pelaku sepakbolanya. Kultur sepakbola Inggirs dan Italia tidak selaras, pun demikian menggunakan kultur sepakbola Eropa menggunakan Amerika Latin. Sepakbola Indonesia? Jangan ditanya, terlalu jauh perbedaannya.

Pelatih timnas Indonesia U16 dari Uruguay, Cesar Payovic Perez, pernah mengamati keliru satu pertandingan divisi utama Liga Indonesia dan terheran-heran ketika berdasarkan pandangan beliau ada sedikitnya 8 kartu merah yg seharusnya dikeluarkan sang wasit tapi hal tadi tidak dilakukan. Pemain yang kasar & belum mengerti anggaran, wasit yg belum mengerti anggaran atau dibawah tekanan, atau faktor-faktor non teknis lainnya?Kita mampu melihat & merasakan bagaimana wasit dan asisten wasit bertugas misalnya pada bawah tekanan (atau pesanan?). Pemberian kartu kuning & merah yg janggal, wasit belum paham syarat advantage, asisten wasit pula masih ragu-ragu pada memutuskan active offsideatau passive offside, dan beberapa anggaran baru lainnya.

Pemandangan yang jauh dari kesan aturan sepakbola memang masih seringkali kita jumpai pada kompetisi kita. Seperti dikutip dari harian Jawapos hari ini, nyaris sepanjang musim, pemandangan itu seakan tidak pernah tanggal menurut kompetisi Liga Indonesia (Ligina) XIII. Aktor utamanya tentu saja para pemain yang merumput di atas lapangan. Lucunya, tidak sporadis protes itu dilakukan menggunakan cara berlebihan. Misalnya, dengan memegang badan wasit. Atau, aksi yg paling kasar dengan menendang dan memukul wasit.

Mengenai hal tersebut, instruktur Persipura Jayapura dari Malaysia, Raja Isa, turut prihatin, “Jangankan memukul, memegang wasit saja telah tindakan yang salah . Sepertinya, pemain Indonesia poly yg tidak tahu menggunakan undang-undang FIFA menyangkut anggaran permainan, terutama pasal 17.”

Dalam pasal 17 dijabarkan tentang tata cara mengormati wasit. Baik itu dalam menerima keputusan wasit maupun ketika memprotes apa yg diputuskan wasit. Demi kemajuan sepak bola Indonesia, Raja Isa menyarankan PSSI buat melakukan penyuluhan pada pemain sebelum kompetisi. Tentu saja, penyuluhan yg bersinggungan menggunakan segala peraturan sepak bola. Para pemain diberi pelajaran & pemahaman mengenai peraturan sepak bola.

“Jika melihat syarat sepak bola Indonesia, gw pikir itu hal yang harus dijalankan PSSI. Kalau perlu, PSSI mengeluarkan ijazah kelulusan. Jika pemain tidak lulus, tentu pemain dilarang tampil pada kompetisi. Begitu juga kebalikannya,” usul Raja Isa.Mantan pemain timnas, Ricky Yakobi, mempunyai pandangan yang jauh lebih ke arah pelatihan & mentalitas. Menurutnya telah seharusnya para pemain yang akan terjun ke kompetisi dikenalkan menggunakan segala peraturanyang ditanamkan semenjak mini, semenjak para pemain menimba ilmu pada sekolah sepak bola (SSB).

Sementara itu buat menaikkan kualitas perwasitan nasional, Badan Wasit Sepakbola Indonesia (BWSI) akan menyelenggarakan kursus penyegaran wasit nasional (C1), 14-20 Februari 2008 pada Cimahi, Bandung. Mereka yg mengikuti kursus merupakan 60 wasit, 60 asisten, & 60 Pengawas Pertandingan.

Kursus penyegaran itu dilakukan pada rangka persiapan kompetisi Divisi Satu ekspresi dominan 2008 yang akan digelar mulai Bulan April 2008. Menurut Direktur BWSI Bambang Irianto, semua materi kursus telah pernah diberikan pada para wasit dalam kursus sebelumnya. Tetapi, pada kursus penyegaran, wasit mendapat bahan-bahan terkini disertai video.

“Yang penting, contohnya, soal offside & sanksi penalti,” ujar Bambang. “Mereka akan melihat rekaman-rekaman modern.”

Kita harapkan bersama menggunakan jeda kompetisi yg relatif usang ini semua pihak mampu mengintrospeksi diri serta mengevaluasi buat peningkatan dalam ekspresi dominan kompetisi mendatang. Bagaimanapun pula, wasit yg tegas & adil akan membuat pertandingan enak ditonton dan mengurangi protes hiperbola dari pemain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *