Anggaran Pssi Mengenai Kekerasan Dalam Pertandingan Sepak Bola

Tidak terasa hingar bingar turnamen sepak bola Euro 2021 sebentar lagi akan memasuki babak puncaknya. Final turnamen Euro 2021 rencananya akan berlangsung dalam Senin, 12 Juli 2021 pada Stadion Wembley, London, Inggris. 

Stadion Wembley merupakan tempat keramat bagi supporter Inggris. Menurut the Lightning Seeds dalam lagunya Three Lions (it’s coming home) & menurut masyarakat Inggris pada umumnya, sepak bola terkini dari berdasarkan Inggris, jadi nir keliru apabila mereka merasa mempunyai sepak bola.

Begitu pula dengan Yono Punk lawyer yg merasa tergila-gila dengan Inggris, mulai berdasarkan musik punk Inggris seperti The Clash, kemudian otomotif kendaraan beroda empat,  jelas Land Rover “no car like it” & motor BSA (Brimingham Small Arms). Untuk tim negara, walaupun prestasi tidak moncer, Yono kentara sukatim Inggris, misalnya judul lagu band Jamrud “Asal British.”

Sebagai bagian menurut kerumunan orang yang menggilai sepak bola & berlatar belakang pengacara/lawyer medioker keras ketua, Yono kembali gelisah gaesss. Perut mual, mata merah, bibir pecah-pecah & susah buang air akbar, lantaran terkena shooting keras pemain lawan waktu bermain sepak bola.         

Makjegagik, Yono Punk Lawyer jadi keinget berita tentang insiden kekerasan yang terjadi pada dalam sepakbola. Yono baca di BolaNas.com, terjadi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pemain Bali United, Leonard Tupamahu. Momen tersebut terjadi pada laga uji coba antara Bali United Vs Persis Solo pada Rabu, 16 Juni 2021.

Leonard Tupamahu tertangkap kamera memukul pemain Persis Solo, Delvin Rumbino. Jika terdapat kejadian seperti itu, bagaimana aturan mengatasinya? Mari kita coba blejeti satu-persatu, misalnya mengupas lima siung bawang merah, 2 siung bawah putih, mengiris cabai tipis-tipis, kemudian tambahkan selesainya minyak mendidih. Duh, malah masak. Piye to iki?

Kembali ke topik. Jadi, sebuah pertandingan olahraga, termasuk sepak bola memiliki swatantra dan independensi termasuk dalam tata anggaran pertandingan olahraga tadi. Nah, otonomi tersebut dikenal menggunakan prinsip “Lex sportiva” atau otonomi aturan olahraga. Kalo di Indonesia, prinsip Lex Sportiva ini diimplementasikan dalam UU No. 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

UU Sistem Keolahragaan Nasional memuat ketentuan permainan pada suatu pertandingan atau law of the game yang diklaim Lex sportiva. Lex sportiva ini adalah asas hukum pada olahraga. Jadi, olahraga memiliki otonomi hukum yang bersifat mandiri & independen pada setiap penyelesaian kasus hukum yg terjadi pada olahraga.

Nah, dalam sepak bola, independensi tata aturannya diaktualisasikan dalam Kode Disiplin PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia). Dalam Pasal 47 diatur Kode Disiplin terkait pelanggaran disiplin berat terhadap suatu the law of game, yaitu dikenakan sanksi kartu merah & dikeluarkan berdasarkan lapangan pertandingan (Pasal 47 Kode Disiplin PSSI). 

Kemudian Pasal 50 Kode Disiplin PSSI mengatur mengenai bertingkah lakutidak baik, yaitu pemain melakukan perkelahian, maka: a. setiap orang yang terlibat pada perkelahian dieksekusi dengan hukuman embargo bermain dalam pertandingan selama 6 (enam) kali pertandingan; b. setiap orang yang sudah berusaha mencegah terjadinya perkelahian, melindungi atau memisahkan para pihak yang terlibat pada perkelahian nir dijatuhi sanksi. 

Berdasarkan kode disiplin tadi, setiap atlet olahraga atau pemain sepak bola akan dikenakan sanksi bila mereka terlibat pada perkelahian menggunakan pemain versus dalam permainan menggunakan sanksi larangan bermain selama 6 (enam) pertandingan ke depan, buat pemain yg melakukan pencegahan atas terjadinya perkelahian tadi dengan menunda para pihak yg berkelahi maka nir akan dijatuhi sanksi oleh wasit.

Selanjutnya timbul pertanyaan, apakah independensi atau swatantra hukum olahraga khususnya sepak bola tidak akan merongrong & mengancam kewibawaan yuridiksi aturan Indonesia, khususnya hukum pidana? 

Jawabnya merupakan interaksi antara aturan pidana nasional dengan Statuta PSSI ini saling mengecualikan, itu artinya hanya bisa dilakukan oleh keliru satu sistem saja, dalam hal ini merupakan melalui mekanisme Kode Etik Disiplin PSSI. Hal ini sinkron amanat Pasal 57 huruf (d) UU Sistem Keolahragaan Nasional yang menyatakan, “Setiap olahragawan berkewajiban menaati peraturan & kode etik yang berlaku pada setiap cabang olahraga yg diikuti dan/ atau sebagai profesinya.” 

Pasal ini mengandung maksud, bahwa setiap atlit profesional terikat menggunakan kode etik masing-masing cabang olahraga, yg artinya apabila terdapat atlit yang melanggar ketentuan pada dalam kode etik tadi, maka akan dilakukan penindakan dari kode etik tersebut. Hal ini adalah wujud berlakunya prinsip, “Lex specialist derogat legi generalist” pada hukum pidana.

Intinya aturan dan kode etik yang telah ditetapkan, diharapkan akan membangun ketertiban, sebagai akibatnya bisa mempertinggi prestasi sepak bola khususnya di Indonesia. Tulisan ini sedikit persembahan Yono Punk Lawyer pada aturan dan sepak bola yang sudah menghiasi hidupnya yg menggunakan peluh darah & air mata buat sebuah pujian serta kehormatan sepak bola Indonesia yang nir terkira.

Sepak bola bukan hanya sekedar bola yg ditendang ke sana kemari 2×45 mnt pada tengah lapangan. Yo, kadang lemparan ke dalam (throw in) opo sepak pojok (corner kick) menurut pinggir lapangan. Hehehe ….

Advokat Keras Kepala, Penyuka Sepak Bola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *