Perserikatan Sepak Bola Amatir Di Bandung Terapkan Var Pada Pertandingan, ‘tamparan’ Bagi Pssi? – Bbc News Indonesia

Dwiki MartaBBC News Indonesia

4 Juli 2019Keterangan gambar,

Doni Setiabudi, CEO perserikatan sepak bola amatir Bandung Premiere League (BPL), sedang menyaksikan tayangan VAR di layar komputer.Penggunaan teknologi Video Referee Assistant (VAR) yg diterapkan oleh sebuah liga sepak bola amatir pada Bandung akhir tahun 2018 kemudian memang masih sangat sederhana, namun dianggap bisa mengurangi secara drastis taraf “keributan” di lapangan.Seorang operator berbaju hijau sedang mengotak-atik kabel yang terpasang pada sebuah perangkat personal komputerpada atas meja yg diletakkan pada sisi lapangan sepak bola. Layar monitor personal komputeritu dalam keadaan meninggal.”Sistemnya lagi meninggal, ini lagi dicek apa masalahnya. Kemungkinan menurut kabelnya,” ujar Doni Setiabudi, CEO liga sepak bola amatir pada Bandung bernama Bandung Premiere League (BPL), pada BBC News Indonesia.Pria yg akrab disapa Jalu itu ikut membantu oleh operator memperbaiki sistem pada komputer VAR milik BPL.Sistem VAR yg digunakan di perserikatan amatir itu memang jauh menurut paripurna, apalagi jika dibandingkan dengan sistem VAR yang dipakai pada Piala Dunia 2018 atau pada beberapa kompetisi di Eropa.Doni menyebut, VAR yang digunakan di BPL ini “hanya” menghabiskan biayatidak lebih berdasarkan Rp15 juta buat pembelian beberapa peranti seperti dua butir kamera, perangkat personal komputer , meja kursi menjadi “ruang kontrol”, kabel berukuran panjang, hingga porto ke tukang las.Keterangan video,

Apakah VAR mampu jadi solusi di sepak bola Indonesia?Sebagai perbandingan, perserikatan sepak bola profesional Vietnam berencana menggunakan VAR pada putaran kedua V League trend kompetisi 2019. Perkiraan biayayang diperlukan buat VAR di sana yang paling murah adalah Rp3,6 miliar & yg paling mahal Rp9,8 miliar.”Kita tidak mungkin mampu melakukan VAR yg sama menggunakan Eropa. Lantaran terbentur kasus anggaran. Akhirnya kita terapkan VAR yg lebih sederhana, akan tetapi esensi berdasarkan VAR-nya itu bisa. VAR yg ada pada BPL ini mampu membantu kinerja wasit pada lapangan,” istilah Doni.Keterangan gambar,

Monitor di sistem VAR Bandung Premier League.Diungkapkan pria 39 tahun ini, sebuah terobosan perlu dilakukan di sepak bola Indonesia yang dikatakannya terlalu banyak kontroversi, terutama soal keputusan wasit, yg nir sporadis justru menimbulkan keributan antarpemain hingga antarsuporter. “Kita amatir, liga yg memang apa adanya, tapi kita berani buat melakukan terobosan. Karena sebuah perserikatan akan dikatakan sangat-sangat profesional, sangat-sangat indah saat mampu melakukan terobosan-terobosan yang memang mengikuti zaman,” katanya.Esensi VARSumber gambar, Getty ImagesKeterangan gambar,

Salah satu wasit pada kompetisi Eropa sedang melihat layar VARDalam sebuah pertandingan sepak bola, wasit dan para asistennya di lapangan berpotensi keliru merogoh keputusan soal gol, pelanggaran, & peristiwa-peristiwa lain.Di situlah peran VAR.Sumber gambar, Getty ImagesKeterangan gambar,

Salah satu wasit pada kompetisi Eropa sedang melihat layar VARPada Piala Dunia 2018 atau Liga Champions, misalnya, tatkala masih ada klaim pelanggaran di dalam kotak penalti atau klaim atas sebuah gol, tapi wasit tidak melihatnya atau ragu-ragu buat menetapkan, wasit bisa menerima masukan lewat indera komunikasi menurut para asisten atau operator tayangan pada ruang kontrol. Sumber gambar, Getty ImagesKeterangan gambar,

Para asisten di ruang kontrol VAR pada kompetisi EropaPara asisten pada ruang kontrol tadi akan memperlihatkan tayangan ulang pada wasit utama melalui sebuah monitor yang umumnya berada di tepi lapangan. Tayangan ulang tersebut bersumber menurut banyak kamera sophisticated menurut aneka macam sudut yg merekam aneka macam momen pada lapangan. Intinya, video tersebut akan memberi bukti visual pada wasit utama dalam merogoh keputusan.Tujuan utamanya tentu saja untuk meminimalkan kontroversi dan protes pada lapangan yg terkadang sanggup sebagai penyebab terjadinya keributan di lapangan.CEO BPL, Doni Setiabudi alias Jalu menyampaikan, sebelum memakai VAR di perserikatan amatir ini, taraf protes dan potensi keributan antarpemain di lapangan sangat tinggi. Tetapi selesainya memakai VAR, hal-hal tersebut berkurang secara drastis.Keterangan gambar,

Wasit mengeluarkan kartu merah pada sebuah pertandingan pada Bandung Premiere League”Perubahannya signifikan. Yang paling drastis adalah taraf protes kepada wasit & taraf keributan. Dimana para pemain, saat telah melihat kejadian yang keputusannya diambil lewat VAR, mereka relatif lebih mendapat.”Hal tadi pula diamini sang Purwanto, wasit yg bertugas pada BPL dan telah beberapa kali merogoh keputusan lewat VAR.”VAR sangat membantu kami para wasit. Saya pernah memberi keputusan awal tendangan pinalti kemudian selesainya aku lihat VAR ternyata gw galat, lalu saya ubah keputusan sebagai tidak penalti, tapi tidak terdapat yg protes sama sekali. Mereka menerima keputusan aku.”Keterangan gambar,

Wasit Purwanto yg telah mencoba merogoh keputusan lewat VAR pada BPLLantas bagaimana dengan kompetisi profesional di bawah naungan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia atau PSSI?Tamparan buat PSSI?Penggunaan VAR yg dilakukan di perserikatan amatir di akhir tahun 2018 ini memang menciptakan banyak kalangan mengarahkan pandangan kepada PSSI.Sepanjang demam isu kompetisi 2018 kemudian, PSSI menghadapi beragam perkara, terutama soal banyaknya keputusan kontroversial berdasarkan wasit sampai dugaan pengaturan skor pada seluruh taraf kompetisi, baik di Liga 1, Liga dua, juga ke Liga tiga.”Itu kalau gw bilang ‘tamparan’ bagi PSSI,” istilah pengamat sepakbola, Justinus Lhaksana kepada BBC News Indonesia lewat sambungan telepon.”Yang gw lihat, (sehabis ramai kabar soal VAR di Bandung) PSSI panik, mereka selalu panik. Saya tidak melihat mereka punya program kerja sama jangka panjang,” sebutnya.Pada Mei kemudian, Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha pada situs resmi PSSI berkata para anggota Komite Exsekutif (Exco) putusan bulat bahwa kompetisi Liga 1 ekspresi dominan 2019 akan menggunakan VAR. PSSI dikabarkan akan segera menelaah banyak sekali hal pada mendukung penggunaan VAR tadi.Namun, sebulan lalu, keputusan PSSI berubah. VAR batal dipakai pada demam isu 2019 iniAkan tetapi, PSSI menolak keputusan awal Exco bulan Mei itu disebut lantaran ‘latah’ atau ‘ditampar’ oleh VAR pada liga amatir.Sumber gambar, M Agung Rajasa/Antara FotoKeterangan gambar,

Suporter sepakbola di Liga 1″Itu (yang di BPL) VAR-VARan,” cetus anggota komite eksekutif PSSI, Gusti Randa, waktu diwawancara BBC News Indonesia pada Jakarta.”Kan jika syaratnya FIFA (Federasi sepakbola dunia) bukan misalnya itu. Bukan sekedar merekam kemudian melihat videonya,” sambungnya.Menurut Gusti Randa, menggunakan VAR sinkron syarat yg diberikan FIFA tidak semudah dan semurah VAR yg ada pada BPL. “Ada syarat-syaratnya (dari FIFA). Misalnya, harusnya terdapat wasit yang mempunyai tunjangan profesi FIFA, banyaknya jika nir keliru 20 wasit. Nah kita baru ada tujuh wasit.”Pria yg pula komisaris PT Liga Indonesia Baru (PT LIB)selaku operator kompetisi Liga Indonesia ini jua menyampaikan kedewasaan suporter sepak bola di Indonesia juga menjadi pertimbangan bagi PSSI sebelum memakai teknologi VAR pada kompetisi lokal.”Suka nir suka , VAR harus melibatkan psikologis penonton itu sendiri.””Ada situasi, di mana ada jeda ketika, seseorang wasit akan melihat dulu ke VAR pada waktu penonton sudah ingar-bingar meminta terdapat sebuah tendangan pinalti, lalu penonton melakukan intimidasi dalam konteks suara-suara dan teriakan. Kemudian wasit mengatakan “nir penalti!” sehabis lihat VAR. Nah, patuh nggak penonton kita?””Jangan hingga saat ada VAR, VARnya telah siap, kita sebagai penonton belum siap. Yang terdapat malah berantem gara-gara VAR. Pertanyaannya, kita patuh enggak terhadap keputusan wasit?”Gusti juga meminta agar tentang penggunaan VAR di kompetisi Liga 1 nir dikait-kaitkan menggunakan VAR yg ada pada liga amatir.”Kalau antar mereka (sesama klub amatir di BPL) bertanding, tentu mereka nir akan ribut.Sementara jika PSSI, wah, ini antar 14 provinsi loh.”Tetapi, pengamat sepakbola, Justinus Lhaksana menyebut hal-hal yang dijelaskan Gusti Randa hanya alasan PSSI. “Untuk saya, itu cara ngeles PSSI saja. Mereka tidak melakukan apa-apa untuk menunjukkan kepada publik bahwa ‘Kami niat loh’.”Sumber gambar, Andreas Fitri Atmoko/Foto AntaraKeterangan gambar,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *